Tantangan & Upaya Mengatasi Ancaman Perubahan Lingkungan Saat Ini
Alam merupakan salah satu hal yang sangat erat kaitannya dengan manusia dalam suatu negara. Alam senantiasa menjadi harapan agar manusia tetap dapat menghidupi dirinya dan di dalam suatu negara, alam pula dimanfaatkan sebagai sebuah alat untuk berdiplomasi dengan pihak lainnya di dalam dunia hubungan internasional. Namun, dikarenakan sifat asli manusia yang cenderung mementingkan kepentingannya sendiri selayaknya menganut perspektif realis, sering kali manusia malah melakukan hal yang mengancam kepunahan alam.
Salah satu bentuk dampak dari aksi manusia yang egois tersebut sedang kita hadapi saat ini yaitu, pandemi. Pandemi dapat muncul dikarenakan adanya perubahan wujud asli alam beserta dengan unsur-unsur pendukungnya seperti lingkungan, binatang, tumbuh-tumbuhan dan lainnya yang telah dieksploitasi oleh manusia. Manusia dengan ringan tangan mudah sekali membabat habis unsur tesebut demi memenuhi nafsunya semata. Oleh karena itu, hal ini merupakan suatu ancaman bagi keamanan non tradisional bagi suatu negara apabila salah satu hal di dalamnya berkurang, maka keadaan negara beserta aktornya menjadi tidak stabil.
Perubahan Iklim: Ancaman Keamanan Kontemporer
Selain harus menghadapi pandemi yang tidak kunjung berakhir, negara juga harus menghadapi masalah lainnya yang diakibatkan pengeksploitasian alam tersebut, yaitu perubahan lingkungan atau iklim. Sebenarnya perubahan iklim sudah merupakan suatu masalah setelah terlaksananya revolusi industri hingga saat ini, namun ancaman keamanan non tradisionalis kontemporer tersebut jarang diekspos dan beberapa negara juga tidak terlalu serius memfokuskan cara penyelesaiannya.
Nyatanya secara formal, berbagai negara telah secara sah melakukan Paris Agreement pada tahun 2015, yang bertujuan untuk negara-negara melakukan komitmen dalam membatasi kenaikan suhu dalam negaranya sendiri yang hanya boleh mencapai 1.5 derajat celcius. Namun, apa daya akibat kecanduan terhadap penggunaaan bahan fosil demi mencapai kepentingan negara, kesepakatan tersebut menurut aku sangat sia-sia.
Lockdown Tidak Berpengaruh, Perdamaian Global Tetap Terusik
Walaupun berbagai negara banyak yang melakukan kebijakan lockdown pada masa pandemi ini mengakibatkan perubahan iklim sedikit teratasi dengan turunnya polusi udara seperti karbon dioksida serta nitrogen oksida sebanyak 10-30%. Namun, menurut aku dampak lockdown tersebut tidak dapat bertahan lama, apalagi banyak negara saat ini yang tetap tergoda melakukan kebijakan dari segi militer dan ekonomi agar negaranya bisa tetap eksis di masa serba keterbatasan akses, pandemi saat ini.
Mirisnya 7-10 negara yang menaungi operasi penjagaan perdamaian dari segi militer atau misi politik khusus menurut pejabat PBB menjadi paling rentan dan tidak akan siap menghadapi perubahan iklim. Seolah-olah keadaan peradaban dunia hubungan internasional memang semakin maju, tetapi di dalamnya terdapat hal yang sangat dilematis bagi negara, antara menerapkan operasi militer atau operasi penjagaan lingkungannya. Padahal menurut aku kedua aspek tersebut merupakan wujud pendukungan terhadap pencapaian perdamaian secara global, yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan, keadilan serta kehidupan yang layak bagi warga negaranya.
Apalagi negara yang berada di dalam situasi konflik baik dari segi ras, etnis, keyakinan serta dalam situasi proxy war, ditambah dengan keadaan krisis pandemi dan perubahan lingkungan saat ini mengancam eskalasi konflik dan terjadinya perang terbuka yang bisa memicu efek domino yang tidak stabil dalam hubungan antar negara. Maka, jumlah korban yang dihasilkan akibat ancaman keamanan non tradisionalis era kontemporer saat ini pada abad 21 bisa disamakan dengan jumlah genosida dalam suatu negara.
Harapan lama terwujudnya piagam global good governance, PBB terkait kehidupan dunia hubungan internasional menjadi semakin sulit untuk diwujudkan. Impian pemikiran idealis atas tercapainya perdamaian global yang bermanfaat bagi penjalanan kehidupan yang layak di masa depan, saat ini sudah seharusnya dilaksanakan dengan lebih bekerja keras lagi.
Segala bentuk harapan serta impian tersebut menurut saya menjadi sia-sia apabila kita sebagai manusia dalam suatu negara sendiri masih menjadi pribadi yang acuh, tidak peduli, dan intoleransi terhadap suatu perubahan yang dihadapi. Memang betul secara mendalam sifat asli manusia dilengkapi dengan nafsu, tetapi agar mencapai keamanan bersama yang berguna menunjang kehidupan yang layak bisa terus berlanjut, sudah seharusnya bisa dikontrol secara bijak.
Keterlibatan Peran Great Power, Sangat Penting!
Jika dipikir berdasarkan logika, negara-negara besar yang berkuasa atas Dewan Keamanan PBB seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris, dan Perancis harus mendukung keras upaya penyelesaian ancaman keamanan non tradisionalis kontemporer tersebut saat ini. Dikarenakan faktanya, kelima negara tersebut merupakan negara yang melaksanakan kegiatan indusri secara besar-besaran dan melakukan investasi di berbagai kawasan negara lain, yang tentu saja dampaknya merusak alam atau lingkungan, walaupun di satu sisi mendatangkan keuntungan. Namun, menurut aku keuntungan yang datang juga sifatnya menjadi sementara, dikarenakan efek yang diakibatkan dari kerusakan alam atau lingkungan akan berlangsung secara lebih lama dan menyebabkan kerugian bagi negara dalam jumlah yang besar.
Sudah seharusnya mulai saat ini pihak-pihak lainnya dalam dunia hubungan internasional, tidak hanya sebatas memanfaatkan peran great power saja dalam mendukung aksi membasmi ancaman keamanan non tradisionalis tersebut. Dunia hubungan internasional pasti akan mengalami suatu pemberhentian, kegiatan pencapaian kepentingan nasional dan tuntuan warga negara tidak dapat dicapai, jika dampak dari ancmaan tersebut tidak diatasi sejak dini.
Awali dari Langkah Kecil, Namun Berdampak Besar
Menurut aku agar tercapai keamanan global, sehingga kehidupan akan tetap bisa berjalan selayaknya, sudah seharusnya warga negara saat ini bisa berjuang melakukan perubahan dengan langkah-langkah kecil, namun bisa menguntungkan secara besar. Langkah-langkah kecil tersebut misalnya, dengan tidak lagi menebang hutan, mengusahakan penghematan energi, bercocok tanam untuk setidaknya membuka ruang hijau guna memfilter polusi yang setiap hari dihasilkan, dan menerapkan pola hidup reuse, recyle and replace.
Mengapa aku menyatakan langkah kecil tersebut bisa memberikan dampak yang lebih besar? dikarenakan bila dilaksanakan oleh seluruh warga negara dalam jumlah besar bisa megimbangi langkah-langkah pemerintah yang Oligarkhi, seperti di Indonesia ditengah pandemi kemarin malah menerbitkan Omnibus Law alih-alih berfokus pada pelaksaanan keputusan pendukungan terhadap Sustainable Development Goals yang diyakini.


Komentar
Posting Komentar