Sebuah Perjalanan Menyikapi Masa Sulit COVID-19


 

Mengingat kilas balik perayaan tahun baru 2020 seakan-akan mengembalikan jiwa dan suasana hati yang bahagia, layaknya bunga yang baru mulai merekah dengan berani mengeluarkan warna aslinya. Aku merayakan tahun baru sewaktu lalu dengan perasaan kagum menonton film negeri Ginseng dengan sinematografi yang luar biasa, sehingga layak menyapu piala sekelas Oscar dengan menyandang “Best Picture”. 

Setelah menyelesaikan pertunjukan menonton film, aku tergugah untuk menjelajahi dunia maya, tak heran hampir seluruh media membicarakan film tersebut dan sempat menjadi trending no.1 perbincangan warga twitter Indonesia. Parasite judulnya. Film tersebut mempunyai analogi cerita yang sama dengan arti kata ‘Parasite’ sesungguhnya. Parasite memiliki makna layaknya sebuah organisme atau makhluk hidup yang memanfaatkan keberadaan makhluk hidup lainnya. Sehingga makhluk yang dimanfaatkan tersebut akan merasakan beban karena eksistensi Parasite. Di dalam film tersebut digambarkan kelompok kaum miskin sebagai Parasite bersenang-senang ketika sang induk semang, kelompok kaum kaya, lengah. Parasite akan terus menghantui dan menggangu kehidupan sang induk ketika ia sudah terlanjur terikat. 

Selain itu aku juga terkagum dengan adegan film yang menceritakan kelompok kaum kaya dengan wealthy people privilege-nya yang merasa bahagia disaat hujan turun agar airnya bisa meresapi koleksi tanaman di rumahnya, yang kemudian dapat menghasilkan udara segar untuk dikonsumsi menjadi penghilang stress. Sedangkan kelompok miskin malah semakin menderita karena harus berjuang menguras air hujan yang turun masuk ke dalam rumahnya.

Namun memasuki awal maret 2020, aku merasakan perasaan cemas, takut dan overthinking mulai membuncah-buncah secara mendadak karena pemerintah mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama di dalam negeriku. Disaat itu juga kata ‘pandemi’ masuk ke dalam kehidupanku. Halaman dunia maya yang sebelumnya dikuasai oleh film Parasite dengan cepat diambil alih semuanya oleh pandemi Covid-19. Selebaran halaman jurnal, kalendar smartphone yang penuh warna pelangi sebagai penandaan hari-hari kesibukanku seketika menjadi buram seperti langit hitam dari sudut pandang mataku. Jantungku berdetak kencang, kakiku lemas, perasaan tersebut lebih menegangkan jika dibandingkan dengan memori cerita di awal tahun pada saat aku menonton film Parasite. 

Aku tidak menyangka analogi film dan pemaknaan Parasite aku rasakan di realita kehidupanku secepat ini. Ya, aku menggambarkan Covid-19 layaknya Parasite yang datang dengan tiba-tiba mengubah seluruh kehidupan serta jiwa ragaku. Rangkaian imajinasi, tulisan serta doa penuh harap berisikan mimpi-mimpi untuk menyonsong masa depan langsung berubah menjadi sebuah keputusasaan dan khayalan semata. Layaknya plot twist film Parasite, perubahan-perubahan instan karena Covid-19 dalam hidupku sungguh menyiksa. Aku meyakini fenomena Covid-19 ini layaknya Parasite, dimana kelompok kaum kaya tidak memanfaatkan privilege-nya dengan bijak beberapa waktu lalu. Kelompok tersebut berbondong-bondong melakukan pembelian stok makanan, masker, hand sanitizer dan obat-obatan untuk melindungi dirinya sendiri sehingga menyebabkan kelangkaan bagi kelompok kaum miskin yang tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengumpulkan barang penting tersebut guna menjadi tameng agar tetap dapat bertahan hidup melawan pandemi Covid-19.

Namun seiring berjalannya waktu, aku sebagai manusia mulai merasa harus melakukan pengadaptasian. Covid-19 yang membuat diriku mau tidak mau harus tetap work from home atau stay at home akhirnya merubah perspektifku. Aku mulai bangun dari perasaan menyerah, menghilangkan toxic dan jiwa negatif dalam menghadapi Covid-19. Aku kembali bangkit dengan menulis kembali harapan serta menyusun rangkaian kegiatan-kegiatan produktif di dalam selebaran kertas jurnalku. Perasaan gembira aku rasakan kembali setelah sempat hilang sedemikian lamanya dengan mengukir tanda checklist bahwa aku telah selesai melaksanakan kegiatan positif di kertas jurnalku. 

Kegiatan produktif yang aku lakukan selama masa quarantine adalah mengikuti webinar-webinar inspiratif, membaca buku dan menulis jurnal. Ketiga kegiatan tersebut aku maknai sebagai rangkaian proses pembelajaran dan pembaharuan diri. Seiring berjalannya waktu menuju usia berkepala dua di tahun 2020 ini aku lebih harus berusaha ekstra memfokuskan kehidupanku untuk terus belajar di mana saja dan kapan saja. Bagiku selama kita diberikan kesempatan untuk hidup, disitulah sudah seharusnya kita belajar hingga akhir hayat menjemput. Dengan belajar aku bisa merasakan hal baru dan bisa memperbaiki setiap kesalahan yang aku perbuat setiap harinya.

Bagiku mengikuti webinar mampu mengembalikan jiwa-jiwa kritis, kreatif dan positif selama di rumah saja. Tidak terhitung berapa banyak rekam jejak historis webinar yang telah aku ikuti dan tumpukan-tumpukan file materi yang aku dapatkan. Melalui webinar aku bisa belajar apa saja dan tidak ada batasan, misalnya belajar tentang mengunggah tulisan di website kampus, mendapat pemahaman materi perkuliahan universitas ternama seperti Oxford dan Harvard secara gratis, sampai dengan mengupas tuntas manfaat eksistensi nuklir dalam suatu negara yang sempat aku ragukan hanya sebagai sekadar senjata pemusnah massal saja. Aku tertampar keras dengan adanya fakta bahwa nuklir dapat dimanfaatkan dengan kandungan uranium didalamnya sebagai terapi penyakit kanker dan mencengah pengembangan nyamuk demam berdarah melalui webinar yang aku ikuti. 

Selain itu, aku juga sempat mengikuti webinar dengan judul “Resilensi”. Di dalam kesempatan tersebut aku mendapatkan pembelajaran yang sungguh bermanfaat serta berkaitan dengan kondisi kehidupan dunia saat ini. Resilensi adalah kemampuan secara mental atau emosional dalam mengatasi krisis serta untuk kembali ke status sebelum krisis dengan cepat. Atau secara garis besar webinar tersebut memberikan sebuah pembelajaraan tentang seni mengendalikan diri ditengah kondisi apa pun dalam hidup. Melalui resilensi kita sebagai manusia diajarkan untuk memiliki waktu luang memperhatikan diri-sendiri agar kita tidak kehilangan arah dan kembali berusaha mewujudkan setiap angan yang ingin kita capai menjadi nyata. Bagiku tema webinar tersebut sangat pas aku terapkan ditengah kondisi pandemi saat ini. Ditengah ketidakpastian serta angan new normal, kita memang perlu mereset sejenak kehidupan kita dengan melakukan intropeksi dan membenahi rangkaian tujuan hidup yang ingin kita raih, agar harapannya setelah pandemi selesai diri ini telah siap merangkai masa depan serta membahagiakan manusia terkasih lainnya.

Melalui webinar Riselensi tersebut aku belajar mewujudkan tahapan piramida akselerasi yang disampaikan oleh pembicara, agar aku dapat tetap berkembang di masa genting pandemi ini. Pada tahapan pertama aku belajar tentang awareness, dimana aku mulai menuliskan kelemahan-kelemahan yang aku rasakan dalam diri. Kemudian tahapan kedua aku belajar tentang responsibility, dimana aku berusaha tidak menyalahkan orang lain atas setiap kesalahaan serta cobaan yang aku terima, aku mulai berani bertanggung jawab atas semua perbuatan baik atau buruk yang aku lakukan. Tahapan ketiga, acceptance aku mulai berusaha menerima kondisi diriku, apalagi ditengah pandemi saat ini, alih-alih terus menyalahkan keadaan, aku lebih memilih untuk menghargai apa yang aku miliki saat ini dan berusaha memanfaatkan serta memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi. Tahapan keempat comfort, aku mulai berusaha mencari perasaan nyaman dengan diriku sendiri agar aku bisa mengendalikan emosi atau stress ditengah masa kritis saat ini. Dan yang terakhir peace, pada tahap ini aku mulai berusaha untuk memahami bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Misalnya berlebihan overthinking yang membuatku susah untuk kembali menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Pada tahap ini aku belajar tentang apa makna kata ‘cukup’ yang harus kita jalankan dalam kehidupan sebagai bentuk tanda ucapan terima kasih serta bersyukur atas kehendak Sang Penguasa yang Maha Baik.

Kegiatan produktif selanjutnya adalah membaca buku. Ditengah pandemi ini aku manfaatkan untuk menghabiskan halaman demi halaman tumpukan buku yang telah lama aku abaikan di masa kesibukanku dahulu. Aku sangat senang membaca buku karena buku dapat menjawab setiap kegelisahan overthinking-ku serta melengkapi kekosongan atas pembelajaran hidup yang aku rasakan saat ini. Aku menjadikan buku ibarat teman cerita serta pendengar yang baik ditengah kondisi social distancing saat ini. Dengan membaca buku aku tidak cemas lagi atas segala pertanyaan dan rasa penasaran yang hadir terkait dengan kehidupan masa depan. Bagiku setiap kali membaca buku dengan rangkaian kalimat serta alur cerita yang luar biasa dapat menghidupkan kembali alur logika berpikir normalku serta menambah wawasan pengetahuan yang sempat tidak karuan selama mencoba sistem pembelajaran online yang membingungkan. 

Ditengah kondisi pandemi ini yang membuat kita tidak bisa berpergian dan berbincang secara terbuka dengan orang lain, menurutku melalui membaca buku bisa menjadi solusi penyelesaiannya. Membaca buku juga bagiku dapat merangsang otak dan jiwa raga untuk terus berpikir, mau mencoba dan mau melakukan penelitian terlebih dahulu sebelum menelan mentah-mentah informasi hoax yang merajarela ditengah pandemi ini. Membaca buku juga dapat menambah kosa kata dan melatih kemampuan pengolahan kata yang dapat aku manfaatkan untuk berkomunikasi serta menulis. Dengan adanya peraturan tidak boleh melakukan aktivitas bersama khalayak banyak di luar rumah membuat diriku merasakan kesusahan untuk berkomunikasi kembali secara normal seperti biasanya.

Aku tidak melakukan pembatasan terhadap genre buku yang aku baca ditengah pandemi ini. Beberapa judul buku yang aku baca yaitu, Who Rules the World dan Unlimited You. Kedua buku tersebut mampu memberikan pembelajaran bahwa sudah seharusnya setiap bencana serta krisis yang dihadapi manusia di muka bumi ini dihadapi secara bersama dengan bersikap adil dan bergerak secara bergotong royong agar dapat terselesaikan dengan menuju ending terbaik. Kemudian, melalui membaca kedua buku tersebut aku juga belajar bahwa kita sebagai manusia sepantasnya jangan menyerah dalam menghadapi setiap cobaan yang dihadapi. Karena Sang Penguasa pernah berpesan bahwa setiap rintangan yang Ia berikan tidak ada yang tidak bisa kita lewati. 

Selanjutnya kegiatan produktif yang aku lakukan adalah menulis jurnal. Bagiku menulis jurnal seperti mengingatkan kembali bahwa eksistensi diri ini di dunia hanya sementara dan tidak lama. Oleh karena itu, perlu untuk mengatur setiap angan dan impian yang akan kita kerjakan supaya hidup dan jiwa ini tidak sia-sia. 

Aku membiasakan diri ini untuk selalu menulis jurnal sebagai jalan alternatif meredakan sakit kepala dan rasa sakit hati atas segala cobaan yang aku hadapi. Melalui menulis jurnal aku juga belajar untuk lebih mengenal diri sendiri, daripada memilih bermain smartphone yang terkadang membuat jemariku sakit. Misal, aku menulis tentang urutan kelebihan dan kelemahan diri dalam jurnal agar kedepannya aku bisa terus menjadi pribadi yang mau belajar memperbaiki serta bertanggung jawab atas setiap kesalahan yang aku buat dan tetap menjadi pribadi yang rendah hati. Melalui kegiatan menulis jurnal layaknya aku ilhami sebagai menulis doa-doa serta harapan pribadiku terhadap masa depan dunia yang lebih baik lagi dibandingkan saat ini.

Komentar

Postingan Populer