A Day in My Life: Meet and Talk with The Diplomat



Pada 6 Mei 2021 lalu aku sangat bersyukur sekali dikarenakan dapat berbicara secara langsung melalui virtual dengan Bapak Raditya Aji Wisnumurti Harjanto Sekretaris III Fungsi Politik, Sosial, dan Budaya KBRI Ankara, Turki dalam program Meet the Diplomat: One on One Session yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan sebagai berikut:

1.Yang ingin saya diskusikan bersama Bapak adalah mengenai eksistensi Indonesia dalam Dewan Keamanan PBB kedepannya. Terlebih beberapa waktu lalu Indonesia terpilih kembali menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan HAM PBB dan sempat menjadi Presidensi sebanyak 2 kali. Saya sangat penasaran sekali bagaimana strategi Indonesia kedepannya agar tetap dapat berkontribusi bagi keamanan dunia ditengah pandemi Covid 19 sekalipun hingga saat ini. Apakah ada strategi yang telah Indonesia siapkan agar kedepannya bisa kembali terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan HAM PBB?. 

Jawaban: Indonesia pernah menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Saya akan membahas melalui perspektif umum membahas mengenai kasus Suriah dengan hadirnya peace keeping. Indonesia menjadi bagian dari anggota Dewan Keamanan HAM PBB merupakan hal yang sangat penting. Melalui keanggotaan Dean Keamanan HAM PBB, Indonesia terlibat secara langsung dalam proses pengeluaran resolusi. Strategi Indonesia agar tetap dapat terlibat dalam Dewan Keamanan HAM PBB adalah dengan memprioritaskan isu peace keeping dan perempuan/gender, pemajuan HAM Indonesia di tingkat nasional hingga internasional.

2.Selama masa kuliah dahulu, hal apa saja yang Bapak persiapkan hingga saat ini bisa menjadi seorang Diplomat?. Apakah setelah selesai S1 baiknya kita mencari pengalaman bekerja dahulu di tempat lain atau langsung kuliah S2 untuk mempersiapkan diri dalam berkarir menjadi Diplomat?

Jawaban: Yang harus dipersiapkan adalah aspek pembagunan kapasitas pribadi. Kita harus berfokus dalam pengembangan kemampuan menganalisa. Lakukan networking, temui banyak orang, kumpulkan banyak pengalaman, lakukan sharing idea. Pelajari banyak bahasa seperti bahasa arab, jepang, perancis. Biasakan membangun kreativitas. Misal, pada saat pandemi ini menjadi momen yang sangat penting untuk kita manfaatkan mencari ide yang kreatif dan membentuk problem solving. 

3.Apakah ada kesulitan yang Bapak rasakan pada saat baru memulai berkarir menjadi seorang Diplomat? Jika ada, lantas bagaimana Bapak menghadapi kesulitan tersebut?.

Jawaban: Pada awal berkarir Diplomat kita berada di proses seleksi SEKDILU (Sekolah Dinas Luar Negeri) terlebih dahulu baru kemudian menjadi perwakilan Indonesia di dunia internasional yang harus selalu siap menghadapi isu-isu baru dan berbeda. Kita harus tetap mau belajar memahami apa yang diperjuangkan oleh Indonesia. Saya dahulu belajar mengenai perjuangan keamanan Indonesia dari awal kemerdekaan.

4.Seperti yang saya lihat di sosial media, para Diplomat sering kali berpergian ke Luar Negeri untuk melaksanakan aksi Diplomasi dan mewujudkan kepentingan Negera Republik Indonesia, saya ingin bertanya secara lebih spesifik hal-hal apa saja yang dikerjakan para Diplomat ketika berada di kantor dan hal-hal apa saja yang dipersiapkan para Diplomat ketika hendak melaksanakan aksi Diplomasi ke Luar Negeri?.

Jawaban: Kita harus melakukan pendalaman terhadap negara yang ingin kita lakukan proses diplomasi dalam berbagai bidang terlebih dahulu. Khususnya pada masa pandemi saat ini sangat challenging sekali, kita harus melakukan test pcr, kita harus bisa mengidentifikasikan peluang yang ada. Kita sering banget punya visi, tapi kadang kita bingung bagaimana harus melaksanakannya. Misalnya, di Turki kita melakukan promosi pariwisata Indonesia, kita lakukan riset terhadap penggunaan sosial media Turki agar bisa menarik audiens terkait minat pariwisata Indonesia. Indonesia sempat mengundang 3 influencer Turki terkait kepentingan Indonesia dan Turki. Kita fasilitasi pembuatan videonya.

5.Bagaimana kondisi Turki selama masa pandemi saat ini? Apakah ada kerja sama antara Indonesia dan Turki selama masa pandemi ini?

Jawaban: Dari bulan Juni lalu Turki sudah membuka perbatasan. Mereka melakukan investasi mengenai bidang kesehatan sejak 20 tahun yang lalu. Tahun 2020 menjadi milestone kerja sama Indonesia dan Turki dalam berbagai bidang diantaranya riset dan teknologi, penanganan pandemi Covid, pengembangan vaksin secara bersamaan. Turki sangat mandiri dalam bidang kesehatan. Selain itu, Indonesia dan Turki juga bekerja sama dalam bidang Dirgantara. Kemudian, dalam bidang infrastruktur, khususnya Indonesia saat ini ingin membangun ibu kota baru. Dan kerja sama yang dilakukan lainnya adalah dalam bidang start-up/teknologi serta industri 4.0. Negara Turki berada di posisi kedua terbesar setelah Tiongkok dalam pengembangan bidang industri. 

Komentar

Postingan Populer