COVID 19 dan Rivalitas Kepemimpinan Global

 



Rabu, 29 Februari 2020. Terima kasih kepada Fisip Universitas Padjajaran yang telah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti webinar via Zoom dan YouTube dengan tema besar "COVID-19 dan Perspektif Hubungan Internasional". Disini aku akan men-highlight atas materi yang telah disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria dan PBB, Vienna, Bapak H.E. Dr. Darmansjah Djumala, M.A. dengan sub-tema seperti judul blog kali ini "COVID-19 dan Rivalitas Kepemimpinan Global".


Beginilah ilustrasi hubungan Amerika Serikat dan China (Tiongkok) sebelum Presiden Xi Jin Ping memutuskan menelpon Presiden Donald Trump untuk mengajak kerja sama dalam mengatasi permasalahan COVID-19 yang digambarkan dari slide ppt yang telah disampaikan oleh pemateri:



Oke untuk pemaparan berikutnya, aku akan mencoba menjelaskan slide ppt di atas dengan langsung memaparkan narasi cerita dari slide dalam bentuk kronologis. Dilihat dari sejarah hubungan Amerika Serikat dan China memang sering mengalami pertikaian. Jika kita lihat dari perspektif Hubungan Internasional pada saat tahun 2010 World Bank menyatakan ekonomi terbesar no.2 di dunia dipegang oleh negara China. Yang menarik saat itu adalah anggaran militer negara China lebih besar dari negara Demokrasi Barat. Bahkan World Bank pun mengatakan bahwa ada kemungkinan China bisa menggantikan posisi no.1 Amerika Serikat sebagai negara perekonomian terbesar di dunia. Hal inilah yang membuat Amerika Serikat sebagai negara super power merasa takut atas pergeseran kekuasaan ekonomi China tersebut yang semakin mengalami kemajuan setiap tahunnya. Dari sinilah hubungan Amerika Serikat dan China mulai terlihat adanya percikan api pertikaian.


Dalam perspektif Hubungan Internasional dan tabel di atas sudah jelas bahwa Amerika Serikat dan China merupakan 2 negara yang besar dan ingin menguasai dunia lewat aksi rivalitas Global yang terus-menerus berusaha mereka lakukan. Negara China pun setiap tahunnya semakin menerapkan kebijakan yang tidak tanggung-tanggung melibatkan negara lain untuk menyaingi Amerika Serikat. 

Untuk mengembangkan dominasinya di tingkat Global pada tahun 2012 China mulai memberikan bantuan kepada negara bekas Sosialis-Komunis di Eropa Timur (yang dahulu dianggap sebagai pendatang baru di benua Eropa) seperti Rusia, Armenia, Azerbajian, Georgia, Yunani, Austria, Polandia, Italia, Swiss, dan Luksemburg melalui BRI (Belt Road Initiative). BRI merupakan strategi pembagunan Global yang diadopsi oleh pemerintah China dengan melibatkan pembagunan infrastruktur, investasi di 152 negara dan organisasi internasional di benua Asia, Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Amerika serta pembentukan OBOR (One Belt One Road) yaitu, sebuah kebijakan inovatif pemerintahan China untuk membangun jalur perdagangan dan ekonomi baru yang menghubungkan benua Asia hingga Eropa.


Kemudian pada tahun 2013 China mulai membangun infrastruktur darat melalui pembuatan rel kereta api yang menghubungkan daratan China ke Uni Eropa. Hal ini merupakan suatu bentuk kebijakan Geopolitik. Selanjutnya di tahun yang sama China mulai membangun bank AIIB (Asian Infrastructure Invesment Bank) yaitu, bank pembagunan multilateral yang berfokus pada investasi untuk pembagunan infrastruktur yang diprakarsai oleh China. Dengan lahirnya kebijakan ini membuktikan sekali lagi kemampuan China yang terus mengalami perkembangan dalam perekonomian Global.


Lewat dominasi China dalam kebijakan BRI, OBOR, dan AIIB serta di tahun ini China mencoba menerapkan bantuan kepada negara lain dalam penanganan COVID-19 dinilai sebagai bentuk entry point China yang dapat  menjadi Global Leader menggeserkan besarnya dominasi Amerika Serikat setelah pandemi selesai. 


Akibat adanya pandemi ini China pun membangun narasi besar-besaran yang disampaikan melalui medianya yang berbunyi “sistem politik China lebih efisien dari Demokrasi Barat yang lamban, gaduh, dan mudah panik dalam menangani COVID-19". Syarat kepemimpinan Global hampir saja tercapai oleh China yang meliputi adanya: kemakmuran, kekuatan, militer, dan diakui sebagai sistem penanganan krisis dunia. Namun, disisi lain juga masih perlu diingat sistem dunia sekarang bersifat mainstream ke arah Demokrasi, HAM, dan Ekonomi Pasar Terbuka. Memang China dapat dikatakan menganut ekonomi yang terbuka. Akan tetapi perlu diingat bahwa China masih menganut Sosialis-Komunis otoritarian yang sangat kental dengan satu partai tunggal dalam negaranya. Hal itulah merupakan salah satu tantangan China sebelum bisa menjadi the next Global Leader.


Oleh karena itu, hasil kesimpulan dari Bapak H.E. Dr. Darmansjah Djumala, M.A. terkait webinar hari ini dengan sub-tema "COVID-19 dan Rivalitas Global" adalah sebagai berikut:

1.Pandemi COVID-19 mengangkat kembali rivalitas Amerika Serikat dan China ke panggung internasional 

2.Pandemi COVID-19 dimanfaatkan China sebagai entry point untuk mengukuhkan diri sebagai pesaing Amerika Serikat di dunia internasional

3.China berhasil mengelola kemakmurannya untuk memproyeksikan dirinya sebagai pemain global 

4.China tidak akan mengubah international order (Bretton Woods System, PBB, WTO, WB-IMF), setelah COVID-19 selesai, tetapi mungkin lebih memanfaatkan tatanan dunia yang sudah ada 

5.China harus diberi tempat yang pas di dalam lembaga pengambil keputusan global. Jika tidak China akan membangun secara sepihak struktur dan sistemnya sendiri (contoh kasus: UNIDO, Bank Dunia/IMF vs AIIB, WHO). Terlebih pada masa pandemi ini Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump memilih mundur dari WHO, padahal negara tersebut termasuk penyumbang terbesar. Dengan adanya kemunduruan Amerika Serikat tersebut menjadi momen yang pas untuk China berkuasa di WHO

6.Rivalitas Amerika Serikat dan China masih berlanjut, namun dalam jangka pendek kedua negara akan bersatu melawan COVID-19


Demikian hasil highlight aku atas webinar hari ini yang aku tulis dalam blog. Semoga ilmunya bermanfaat buat siapa saja yang membaca ini. Mohon maaf jika penjelasannya masih sangat kurang jelas. 


Silahkan bagi siapa saja yang mengunjungi blog ini untuk meninggalkan jejak komentar berupa saran, pertanyaan ataupun kritik terhadap tulisan dalam blog ini. Hal tersebut sangat bermanfaat sekali bagi aku untuk perbaikan di penulisan kedepannya. Sekian dan terima kasih sudah berkunjung. Peaceee. 

 

 


Komentar

Postingan Populer